Hakikat Waktu


Imam ibnu Qayyim Al-Jauziah

Seorang bisa saja dia sehat tapi tidak memiliki waktu yang luang karena sibuk dengan pekerjaannya atau dia memiliki waktu yang luang tapi dia tidak sehat, jika keduanya berkumpul waktu luang dan sehat lalu ia bermalas-malasan untuk melakukan ketaatan kepada Allah maka dia adalah orang yang tertipu. Dunia adalah ladang akhirat, didalamnya ada perniagaan yang jelas keuntungannya di akhirat, siapa yang menggunakan waktu luang dan sehatnya untuk taat kepada Allah maka dialah orang yang sukses, tapi siapa yang menggunakannya dalam maksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang tertipu. Karena setelah waktu luang akan datang kesibukan, setelah sehat akan datang sakit.

Kutipan di atas memang merupakan rangkuman dari nasihat Ibnul Qayyim yang berfokus pada pentingnya memanfaatkan kesehatan dan waktu luang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sumber nasihat ini ada di berbagai karya beliau, khususnya dalam Al-Fawaid dan Madarij As-Salikin, di mana ia sering mengingatkan tentang kesia-siaan orang yang membuang waktu dan kesempatan sehat tanpa mempergunakannya untuk amal kebaikan.

Ibnul Qayyim berkata bahwa waktu luang dan kesehatan adalah dua nikmat besar yang sering diabaikan. Ia menulis, “Ketahuilah, bahwa umur seorang insan sebenarnya adalah waktu hidupnya, dan waktu hidupnya yang hakiki adalah waktu yang ia gunakan untuk Allah dan demi kehidupan akhiratnya.”

Beliau juga menegaskan bahwa jika seseorang memiliki keduanya—waktu luang dan kesehatan—namun menyia-nyiakannya dalam kelalaian atau kemaksiatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Menurut Ibnul Qayyim, inilah bentuk “kerugian sejati” karena dunia hanyalah tempat untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama besar, memberikan perhatian khusus pada pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Dalam berbagai karya dan nasihatnya, ia mengingatkan bahwa waktu adalah salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada manusia, dan setiap detik dari waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Menurut Ibnul Qayyim, waktu merupakan modal utama seorang mukmin untuk beribadah, mencari ilmu, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Beliau menekankan bahwa manusia akan ditanya tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu di dunia, karena waktu adalah amanah yang harus dijaga. Ibnul Qayyim juga mengingatkan tentang bahaya menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, yang dapat menjauhkan seseorang dari tujuan hidup sejati. Dalam karyanya Al-Fawaid, Ibnul Qayyim menyatakan bahwa orang yang lalai dengan waktu akan merugi, sedangkan orang yang menghargai waktu akan meraih keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat.

Nasihat Ibnul Qayyim tentang waktu mengajarkan kita untuk mempergunakannya sebaik mungkin dengan memperbanyak ibadah, beramal shalih, serta terus mencari ilmu yang bermanfaat.

Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian

إضاعة الوقت أشد من الموت، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها.

Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan kehidupan akhirat, sementara kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.

Kutipan ini menunjukkan bagaimana Ibnul Qayyim melihat waktu sebagai aset yang sangat berharga bagi seorang mukmin. Kehilangan waktu dalam kelalaian dianggap lebih berbahaya daripada kematian itu sendiri, karena menjauhkan kita dari jalan ketaatan kepada Allah dan persiapan menuju akhirat.

Waktu sebagai Modal Kehidupan

الوقت هو رأس مال العبد، وهو سائر إلى الله، فإما أن يقطعه في طاعة الله وإما أن يقطعه في غير ذلك

Waktu adalah modal utama seorang hamba. Ia berjalan menuju Allah, maka ia bisa saja memanfaatkannya dalam ketaatan kepada Allah atau menghabiskannya untuk hal yang sia-sia.